NurAzman
seminggu yang lepas
Urna puisi

1) RENTAPAN


Terdiam bisu, matanya terpaku ,

Lihat ada sosok-sosok indah ,

Yang mandir, yang nafsu jakanya ,

Menjadi tidak keruan.


Walhal kita sedia maklum 

Ini bulan baik ,

Kafankan itu warnanya putih ,

Dan longgarkan sedikit.


2) BERCELARU


Tersungkur dalam kesedihan , 

Mataku bagaikan awan mendung,

Yang menunggu masa ,

Untuk gugurkan air hujan.


 Hujan mula mencurah ,

Jeritan seperti kilat ,

Yang tiada bunyi , 

atmaku sakit yang teramat .


Fikiran ini

Bagaikan ribut yang kuat ,

Gerakannya seperti gentayangan,

Apa yang harus aku lakukan?


Inginkan pelangi ,

Urnakan kehidupan ini , 

Inginku menjadi ratna , 

Yang menyinari di bumantara ,

Itulah lumrah kehidupan .



3) SANG JUITA MENGHILANG



Sejuta manusia yang hadir , 

tiada seorang seperti dirimu , 

Sang juita membuatku gembira , 

malah tertawa menangis bersama.


aku yang ingin dirimu,

dijagai oleh sang tuhan ,

yang sentiasa disisimu selalu ,

takkan ku sakiti hatimu. 


Namun ,

Hati ini retak seribu , 

Kian renjana menghilang ,

masih gantayangan mencari dirimu ,

Kau menghilang seperti pawana ,

Tanpa meninggalkan sedikit jejak .


Sang juita kembalilah ,

Ratnamu dalam kegelapan , 

Malah inginkan dirimu datang kepadaku ,

Urnakan atmaku.


4) PERJUANGAN SANG DEWI


Walaupun wajah kelihatan lemah ,

Namun pantang menyerah , 

Walaupun rintangan menghadang , 

Kau pantang ke belakang .


Walaupun menyakitkan , 

Aku tetap tabah menghadapi , 

Bisikan bumantara menguatkanku,

Wahai sang ratna , 

Kaulah pejuang sang dewi .


Jangan sewenang-wenang kau mengalah , 

Ingatlah hidup hanya sekali sahaja , 

Baharilah kehidupanmu , 

Percayalah , Sang Tuhan pasti urnakan pelangimu .


5) DIAM


Tiada bunyi ,

Kenapa tiada lagi degupan? ,

Adakah sudah terhenti ? ,

Adakah sudah mati? 

Jawab wahai hati .


Aku remuk , 

seremuk - remuknya ,

Aku diam dan diam ,

Sakitnya tidak dapatku luahkan ,

Hanya mampu mendengar ,

Hanya mampu berdiam.


Inginku meluah , 

meluah apa yang ku pendamkan ,

Namun tidakku dapat , 

Perasaanku bercampuk aduk ,

Yang dikunci dalam sangkar .


Inginku menjadi merpati , 

Yang bertebangan bebas , 

Tidak lagi terperangkap , 

Inginku merasakan langit , 

Inginku merasakan pawana segar .


Namun itu hanyalah khayalan,

Beginilah aku sekarang ,

Diam dan diam .